KVB Logo
Home
Products
Trading
Insights
Campaigns
About Us
imgimg
Market Analysis
Apa Itu Market Sentiment? Cara Membaca Sentimen Pasar untuk Trader Pemula
Apa Itu Market Sentiment? Cara Membaca Sentimen Pasar untuk Trader Pemula
Orpa Rejoice · 15K Views

 

Dalam trading, pergerakan harga tidak hanya dipengaruhi oleh data ekonomi, kebijakan bank sentral, atau analisis teknikal semata. Ada satu faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu market sentiment atau sentimen pasar. Sentimen pasar menggambarkan bagaimana persepsi, emosi, dan ekspektasi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi maupun arah harga suatu aset. Pada banyak kasus, sentimen pasar bahkan bisa menggerakkan harga lebih cepat dibanding data ekonomi itu sendiri. Bagi trader pemula, memahami apa itu market sentiment dan bagaimana cara membacanya akan sangat membantu dalam mengambil keputusan trading yang lebih objektif.

 

Baca Juga: Cara Membaca Heatmap Saham untuk Melihat Arah Pasar Secara Visual 

 

Pengertian Market Sentiment dalam Trading

 

Peran Sentimen Pasar terhadap Pergerakan Harga

 

Market sentiment adalah gambaran umum mengenai apakah pelaku pasar cenderung optimis atau pesimis terhadap suatu aset. Ketika mayoritas investor yakin harga akan naik, sentimen pasar disebut bullish. Namun jika mayoritas pelaku pasar memperkirakan harga akan turun, maka sentimen pasar bersifat bearish. Sentimen inilah yang mendorong trader melakukan aksi beli atau jual secara kolektif, sehingga membentuk tren harga di pasar.

 

Dalam praktiknya, sentimen pasar sering kali muncul lebih cepat dibandingkan data ekonomi. Ketika muncul ekspektasi bahwa suku bunga akan turun misalnya, pasar bisa mulai membeli emas atau saham bahkan sebelum keputusan resmi dirilis. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen kadang bergerak lebih dulu dibandingkan fundamental.

 

Hubungan Market Sentiment dengan Psikologi Investor

 

Sentimen pasar sangat erat kaitannya dengan psikologi investor. Saat pasar diliputi optimisme, rasa percaya diri meningkat sehingga minat beli pun naik. Sebaliknya, ketika muncul ketakutan terhadap resesi, krisis, atau gejolak geopolitik, banyak investor memilih menghindari risiko dan memindahkan dana ke aset safe haven seperti emas atau dolar AS. Reaksi emosional inilah yang kemudian menciptakan dinamika naik turunnya harga di pasar keuangan.

 

 

Jenis-Jenis Sentimen Pasar

 

Bullish Sentiment

 

Bullish sentiment terjadi ketika mayoritas pelaku pasar memperkirakan harga akan naik. Pada kondisi ini, aktivitas beli meningkat dan mendorong tren naik (uptrend). Bullish sentiment sering muncul ketika ekonomi tumbuh positif, suku bunga menurun, atau saat investor merasa prospek aset tertentu sangat menarik.

 

Bearish Sentiment

 

Bearish sentiment merupakan kebalikan dari bullish. Sentimen ini muncul ketika banyak investor memprediksi harga akan turun. Akibatnya tekanan jual meningkat, sehingga pasar bergerak dalam tren turun (downtrend). Sentimen bearish biasanya didorong oleh ketidakpastian ekonomi, kenaikan suku bunga, atau kekhawatiran terhadap risiko global.

 

Neutral atau Sideways Sentiment

 

Sentimen netral atau sideways terjadi ketika pasar belum memiliki arah yang jelas. Pelaku pasar cenderung menunggu data atau katalis penting sebelum menentukan posisi. Pada fase ini, harga cenderung bergerak dalam range terbatas tanpa tren yang kuat.

 

 

Cara Membaca Sentimen Pasar untuk Trader Pemula

 

Analisis Berita dan Data Ekonomi

 

Salah satu cara paling umum membaca market sentiment adalah dengan mengikuti berita ekonomi dan kebijakan bank sentral. Data seperti inflasi, payroll, GDP, dan pernyataan pejabat bank sentral sering mempengaruhi sentimen pasar secara langsung. Namun yang paling penting adalah bagaimana pasar menafsirkan data tersebut. Kadang data buruk justru dianggap positif jika mendukung ekspektasi penurunan suku bunga.

 

Indikator Market Sentiment

 

Beberapa indikator teknikal juga dapat membantu membaca sentimen pasar, misalnya indeks volatilitas, posisi net spekulator besar, hingga indikator trend-following seperti moving average. Ketika tren naik didukung volume besar, biasanya ini menunjukkan sentimen bullish yang kuat. Sebaliknya, penurunan harga dengan tekanan besar menunjukkan sentimen bearish.

 

Korelasi Antar Aset

 

Trader juga bisa membaca sentimen pasar melalui korelasi antar aset. Misalnya ketika pasar saham menguat secara luas, pasar biasanya berada dalam kondisi risk-on sehingga USD dan emas bisa melemah. Namun ketika pasar masuk fase risk-off, aset safe haven seperti USD dan emas sering menguat karena investor mengurangi risiko.

 

image.png

 

Contoh Pengaruh Market Sentiment pada Pasar Forex dan Emas

 

Dalam pasar forex, penguatan dolar AS sering mencerminkan sentimen risk-off, yaitu ketika investor mencari aset aman di tengah ketidakpastian. Sebaliknya, ketika sentimen optimis, mata uang berisiko seperti AUD atau GBP cenderung menguat. Pada pasar emas, sentimen ketakutan terhadap resesi, krisis geopolitik, atau pelemahan ekonomi sering mendorong investor masuk ke emas sebagai lindung nilai. Namun ketika suku bunga tinggi dan pasar optimis terhadap pertumbuhan ekonomi, minat terhadap emas bisa menurun.

 

Dari sini terlihat bahwa market sentiment dapat mempengaruhi tren jangka pendek maupun jangka panjang. Trader yang mampu membaca perubahan sentimen lebih awal akan memiliki keunggulan dalam menentukan posisi beli atau jual.

 

Untuk membantu Anda menerapkan pemahaman market sentiment dalam trading yang aman dan profesional, pastikan Anda menggunakan platform trading yang teregulasi. Melalui Broker KVB Indonesia, Anda dapat mengakses berbagai instrumen seperti forex, emas, indeks, dan komoditas dengan dukungan analisis pasar yang komprehensif.

 

Bagi Anda yang ingin memulai trading, proses pembukaan akun dapat dilakukan secara online melalui Daftar Akun KVB Indonesia sehingga Anda dapat langsung memanfaatkan perubahan sentimen pasar sebagai bagian dari strategi trading Anda.