


Fear and greed mempengaruhi harga saham dan emas melalui satu faktor utama yang sering diabaikan investor, yaitu psikologi market. Pergerakan harga di pasar keuangan tidak hanya ditentukan oleh laporan keuangan atau data ekonomi, tetapi juga oleh emosi kolektif pelaku pasar. Ketika ketakutan mendominasi, harga saham bisa turun tajam, sementara emas justru menguat. Sebaliknya, saat keserakahan dan euforia menguasai pasar, saham cenderung naik agresif dan emas melemah.
Fenomena ini menjelaskan mengapa dalam kondisi tertentu, sentimen pasar bisa terasa lebih kuat daripada fundamental. Investor dan trader yang memahami hubungan antara fear, greed, saham, dan emas memiliki keunggulan dalam membaca arah market dan menyesuaikan strategi.
Peran Psikologi dalam Pergerakan Harga
Sentimen pasar sebagai penggerak harga
Sentimen pasar saham mencerminkan optimisme atau pesimisme investor terhadap kondisi ekonomi dan prospek aset. Saat sentimen positif, investor cenderung agresif membeli saham karena berharap harga terus naik. Sebaliknya, ketika sentimen berubah negatif, tekanan jual meningkat dan harga saham tertekan. Inilah alasan utama kenapa fear and greed mempengaruhi harga saham secara signifikan, bahkan dalam waktu singkat.
Pada emas, sentimen berperan berbeda. Emas dikenal sebagai aset pelindung nilai atau safe haven. Ketika ketakutan meningkat di pasar keuangan, minat terhadap emas biasanya naik karena investor mencari aset yang dianggap lebih aman.
Hubungan supply dan demand dengan emosi
Emosi investor secara langsung memengaruhi supply dan demand. Panic selling saham meningkatkan suplai saham di pasar, sementara permintaan menurun karena investor enggan membeli. Akibatnya, harga jatuh lebih dalam. Sebaliknya, saat euforia, permintaan saham melonjak dan harga terdorong naik, meskipun secara fundamental tidak selalu sebanding.
Dampak Fear terhadap Saham dan Emas
Saham turun karena panic selling
Saat investor panik, mereka fokus pada potensi kerugian jangka pendek. Ketakutan ini mendorong panic selling saham, di mana banyak investor menjual asetnya secara bersamaan. Tekanan jual yang masif membuat harga saham turun tajam, bahkan sering kali melebihi nilai wajarnya.
Fenomena ini menjawab pertanyaan kenapa saham turun saat investor panik. Bukan karena fundamental perusahaan langsung memburuk, melainkan karena reaksi emosional yang menyebar cepat di pasar.
Emas naik sebagai safe haven
Berbanding terbalik dengan saham, emas sering menguat saat market diliputi ketakutan. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, geopolitik, atau krisis keuangan, investor memindahkan dana ke emas karena dianggap lebih stabil. Inilah alasan kenapa dampak fear and greed pada emas sangat erat kaitannya dengan sentimen risk-off.
Contoh kondisi risk-off
Kondisi risk-off terjadi ketika investor menghindari aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset aman seperti emas. Situasi ini biasanya dipicu oleh ketidakpastian global, kenaikan suku bunga agresif, atau krisis ekonomi. Pada fase ini, saham tertekan sementara harga emas cenderung menguat.
Baca Juga: Apa Itu Konsep Fear and Greed dalam Dunia Investasi?
Dampak Greed terhadap Saham dan Emas
Saham naik karena euforia
Greed mendorong investor untuk mengejar keuntungan tanpa mempertimbangkan risiko secara matang. Saat euforia pasar terjadi, saham-saham dibeli secara agresif karena ekspektasi harga akan terus naik. Fear and greed mempengaruhi harga saham dengan cara menciptakan lonjakan permintaan yang mendorong harga semakin tinggi.
Bubble market dan overvaluation
Keserakahan yang tidak terkendali dapat menciptakan bubble market. Harga saham naik jauh di atas nilai fundamentalnya karena didorong oleh ekspektasi dan spekulasi. Ketika realita tidak sesuai harapan, bubble pecah dan harga terkoreksi tajam.
Emas cenderung melemah saat risk-on
Dalam kondisi risk-on, investor lebih memilih aset berisiko seperti saham karena potensi return yang lebih tinggi. Akibatnya, minat terhadap emas menurun dan harganya cenderung melemah. Hal ini menjelaskan hubungan terbalik antara saham dan emas dalam fase greed yang kuat.
Bagaimana Trader Bisa Memanfaatkan Sentimen Ini?
Mengamati volatilitas
Volatilitas sering meningkat saat fear atau greed ekstrem. Pergerakan harga yang cepat dan tajam menjadi sinyal bahwa emosi pasar sedang dominan. Trader dapat memanfaatkan volatilitas ini dengan strategi yang disesuaikan dengan toleransi risiko.
Membaca indikator sentimen
Indikator sentimen membantu trader memahami kondisi psikologi market. Dengan mengombinasikan indikator sentimen, teknikal, dan fundamental, keputusan trading dapat menjadi lebih seimbang dan tidak hanya berbasis emosi.
Strategi konservatif saat ekstrem
Saat fear atau greed berada di level ekstrem, pendekatan konservatif sering kali lebih aman. Mengurangi ukuran posisi, menunggu konfirmasi, atau fokus pada manajemen risiko dapat membantu menjaga konsistensi hasil trading.
Di tengah kondisi market yang dinamis, KVB Indonesia menghadirkan berbagai program untuk mendukung strategi trader, seperti Swap Promo bagi trader yang ingin menahan posisi lebih lama, Welcome Reward untuk membantu memulai trading dengan lebih percaya diri, serta Lucky Draw yang memberikan peluang reward tambahan dari aktivitas trading.
Platform Trading Aman Teregulasi di KVB
Untuk memanfaatkan pergerakan saham dan emas secara optimal, penggunaan platform trading yang aman dan teregulasi menjadi faktor penting. KVB Indonesia menyediakan akses trading saham global dan emas dengan sistem yang transparan dan diawasi regulator resmi. Anda dapat mengeksplorasi instrumen stock trading KVB Indonesia melalui Homepage KVB Indonesia sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.
Bagi Anda yang ingin langsung mempraktikkan pemahaman tentang fear and greed, risk-on risk-off, serta sentimen pasar, Anda dapat melakukan pendaftaran akun trading resmi KVB melalui Link Register ini dan mulai menyesuaikan strategi trading sesuai kondisi market.

