

NEW YORK, KOMPAS.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street sempat goyah, tetapi tidak tumbang. Indeks S&P 500 menutup perdagangan Senin (2/3/2026) waktu setempat nyaris stagnan, setelah sebelumnya tertekan tajam akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir pekan.
Mengutip CNBC Rabu (3/3/2026), pada awal awal sesi, pasar sempat panik. S&P 500 bahkan turun hingga 1,2 persen dari posisi terendah intraday. Namun menjelang penutupan, aksi beli bermunculan, indeks acuan itu akhirnya naik tipis 0,04 persen ke level 6.881,62.
Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi juga bangkit. Setelah sempat anjlok 1,6 persen, indeks ini ditutup menguat 0,36 persen ke 22.748,86. Sementara Dow Jones Industrial Average masih terkoreksi 73,14 poin atau 0,15 persen ke 48.904,78, meski sebelumnya sempat merosot hampir 600 poin.
CEO KKM Financial, Jeff Kilburg, menilai pelaku pasar memanfaatkan penurunan harga sebagai peluang masuk atau ketika S&P 500 mendekati level terendahnya pada 2026.
“Pasar berjangka bereaksi berlebihan terhadap konflik Iran, sehingga menciptakan peluang untuk membeli ketika indeks S&P 500 mendekati level terendahnya pada 2026,” ujar Jeff Kilburg, CEO KKM Financial.
Ia bahkan telah menuliskan pada Minggu malam bahwa pasar akan berbalik menguat sebelum penutupan perdagangan Senin.
“Kami tetap berada dalam tren pasar bullish meskipun ketegangan geopolitik terus meningkat,” paparnya.
Pemulihan pasar didorong sejumlah faktor. Harga minyak AS yang sempat melonjak tajam akhirnya turun dari level tertinggi harian, sehingga meredakan kekhawatiran akan dampak perang terhadap ekonomi Amerika.
Di saat bersamaan, investor kembali memborong saham-saham teknologi berkapitalisasi besar seperti Nvidia dan Microsoft yang dinilai memiliki fundamental kuat dan cadangan kas besar, sehingga relatif tahan terhadap gejolak.
Dari 11 sektor dalam S&P 500, hanya empat yang ditutup di zona hijau, yakni energi, industri, teknologi, dan real estat. Saham Nvidia melonjak hampir 3 persen, sementara Microsoft naik lebih dari 1 persen.
Di sisi geopolitik, serangan gabungan AS dan Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini disebut sebagai salah satu momen paling menentukan bagi Republik Islam Iran sejak 1979.
Presiden Donald Trump menyebut operasi militer tersebut sebagai “kesempatan terakhir dan terbaik” untuk menghilangkan ancaman dari rezim Iran. Ia memperkirakan konflik dapat berlangsung empat hingga lima pekan, meskipun tidak menutup kemungkinan berjalan lebih lama.

