

Market Analysis
Market Analysis 14 April 2026: Blokade Selat Hormuz Mulai Hantam Emas, Akankah Jadi Pemicu Rebound?
Market Analysis 14 April 2026: Blokade Selat Hormuz Mulai Hantam Emas, Akankah Jadi Pemicu Rebound?
KVB Futures Indonesia · 24.3K Views
Fundamental
Meskipun militer AS masih menerapkan blokade terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, menyusul gagalnya perundingan perdamaian antara AS-Iran, namun sentiment pasar bergeser menjadi risk-on di tengah harapan akan kelanjutan negosiasi untuk mengakhiri konflik di Kawasan Timur Tengah hingga saat ini.
Harga Emas spot turun hingga 0.1% sementara Emas berjangka mencatat penurunan hingga 0.4%, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa blokade Selat Hormuz, yang berlaku untuk kapal-kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, namun blokade ini tidak berlaku kepada kapal-kapal yang hanya melintasi perairan tersebut.
Guncangan terhadap harga energi akibat dari meluasnya konflik Timur Tengah telah memicu kekhawatiran terkait kemungkinan lonjakan tekanan inflasi di seluruh dunia. Prospek harga minyak tetap jauh di atas level sebelum meletusnya konflik, telah mendorong ekspektasi inflasi ke level tinggi sehingga menyebabkan sejumlah investor mengurangi taruhan mereka terhadap kebijakan pemangkasan suku bunga The Fed di tahun ini.
Kondisi suku bunga yang lebih tinggi biasanya cenderung berdampak buruk bagi asset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti Emas, meskipun secara tradisional Emas masih menjadi alat lindung nilai inflasi serta asset aman selama masa krisis, sehingga hal inilah yang menyebabkan harga Emas spot anjlok hingga lebih dari 10% sejak awal konflik di akhir Februari lalu.
Pergeseran pasar untuk memburu US Dollar sebagai benteng juga telah memperkuat nilai tukar Greenback dan membuat Bullion menjadi lebih mahal bagi para buyer di pasar Emas global, namun dukungan Emas akan kembali mendapat momentum jika terjadi penurunan ketegangan geopolitik, seperti yang disampaikan oleh Laurence Booth selaku Kepala Pasar Global di CMC Markets.
Lebih lanjut David Morrison, analis pasar senior di Trade Nation juga mengatakan bahwa aksi jual yang terjadi menggarisbawahi rentannya Emas terhadap risiko geopolitik yang merusak reputasi Emas sebagai asset aman di masa-masa sulit.
Teknikal

Dalam timeframe H1 diatas, pergerakan XAUUSD secara umum berada di fase compression (squeeze) yang menunjukkan potensi breakout yang cukup besar, dimana untuk jangka pendek terlihat struktur harga masih uptrend namun tertahan oleh bearish trendline yang berfungsi sebagai area resistance yang membuka peluang tekanan bearish untuk jangka menengahnya.
Jika mengacu pada pergerakan signal MA 25 dan 50 maka signal bullish masih cukup valid karena harga masih tetap bergerak di atas kombinasi MA, namun sudah mulai bergerak cenderung flat yang artinya membuka kemungkinan momentum pelemahan.
Sementara untuk signal Stochastic Oscilator terlihat bahwa pergerakan garis signal telah berada di area Overbought yang mengindikasi peluang tekanan turun yang lebih besar, yang pada akhirnya kecenderungan pasar wait & see dengan peluang terjadinya koreksi di jangka pendek.
Disclaimer: Informasi yang disampaikan dalam artikel ini hanya bertujuan sebagai referensi dan edukasi pasar, bukan merupakan saran investasi atau ajakan untuk melakukan transaksi. Penulis dan pihak terkait tidak bertanggung jawab atas keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini.


