Logo
Home
Products
Trading
Insights
Campaigns
About Us
imgimg
Market Analysis
Profit Taking Dominasi Pergerakan XAUUSD, Akibat Berlanjutnya Ketegangan Di Iran
Profit Taking Dominasi Pergerakan XAUUSD, Akibat Berlanjutnya Ketegangan Di Iran
Wisnu Dewojati · 9K Views

gold drop

Logam Mulia melanjutkan penurunannya dari level tertinggi dalam 10 minggu perdagangan di awal pekan ini, setelah sebelumnya mengalami reli, yang diakibatkan oleh aksi profit taking dari para investor yang mendominasi sejak sesi perdagangan Asia pagi ini, serta ditambah dengan ketegangan baru yang terjadi di Selat Hormuz sehingga menegaskan kembali ketidakpastian penyelesaian konflik yang berujung pada penutupan Selat Hormuz.

 

Pada akhirnya kondisi geopolitik saat ini mampu untuk merubah sentimen pasar dari prospek inflasi dan kebijakan Federal Reserve pasca serangkaian data tenaga kerja dan inflasi yang pada dasarnya mengindikasikan terjadinya perlambatan, baik di pasar tenaga kerja maupun tekanan Harga.

 

Penurunan harga hingga 1.3% di sesi perdagangan Kamis kemarin, terjadi di tengah kondisi dimana para pedagang sedang mengevaluasi dan menelaah data inflasi AS yang moderat, sehingga mengindikasikan bahwa dampak inflasi yang terjadi akibat lonjakan harga energi yang ditimbulkan oleh perang di Iran dinilai telah sedikit reda di bulan Juli lalu.

 

Lemahnya Data Makro Perkuat Argumen Kebijakan Suku Bunga The Fed

 

Pasar mata uang kini memperkirakan probabilitas sekitar satu banding tiga untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan September, sementara investor akan menerima data ketenagakerjaan sektor swasta bulan Agustus sebelum pertemuan The Fed berikutnya dan akan mencermati pernyataan Ketua Kevin Warsh pada simposium Jackson Hole bank sentral tersebut akhir bulan ini.

 

Perusahaan perbankan dan jasa keuangan multinasional yang berkantor pusat di Melbourne, Australia and New Zealand Banking Group Ltd, atau biasa dikenal sebagai ANZ, menyatakan bahwa data harga produsen (PPI) AS terbaru memperkuat pandangan tersebut. PPI utama (headline PPI) tidak berubah pada bulan Juli, sementara PPI inti naik 0.2% dari bulan sebelumnya; kedua angka tersebut berada di bawah konsensus pasar.

 

Rendahnya angka PPI ini mengikuti data inflasi konsumen sebelumnya, dimana Core CPI sedikit melambat di tingkat tahunan yang menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali, dimana secara keseluruhan data tersebut semakin mendukung argument bagi The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga tidak berubah di September mendatang, walaupun data inflasi serta ketenagakerjaan bulan ini masih harus memperkuat keyakinan para anggota Dewan Kebijakan Moneter Federal Reserve.

 

Prospek kebijakan suku bunga AS yang lebih dovish, nampaknya masih akan memberikan dukungan bagi Emas sebagai aset tanpa imbal hasil, namun demikian ANZ mendatat bahwa aksi ambil untung pasca pemulihan harga dalam beberapa hari terakhir ini terjadi akibat Emas yang mampu melampaui pergerakan rata-rata dalam 100 hari, yang menjadi hambatan krusial bagi pergerakan Emas.

 

Berlanjutnya Ketegangan Di Iran Tetap Menjaga Fokus Risiko Inflasi

 

Ketidakpastian terhadap perkembangan Selat Hormuz, masih tetap menjaga risiko energi, dimana prospek inflasi masih akan sangat bergantung pada perkembangan di Timur tengah, menyusul para investor yang terus memantau upaya Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik dan sekaligus membuka jalur pelayaran untuk seperlima pasokan minyak mentah global, mengingat dampaknya yang sangat signifikan terhadap inflasi energi.

 

Sebelumnya risiko geopolitik meningkat setelah AS mengancam akan mempertahankan blokade Angkatan Laut terhadap Iran tanpa batas Waktu, di tengah kondisi mandeknya upaya gencatan senjata. Selain itu pihak Teheran juga menuduh AS terus meningkatkan tekanan meskipun negosiasi tengah dilakukan, yang mana mayoritas serangan terjadi di kawasan yang melibatkan arus lalu lintas kapal yang berisiko meningkatkan kekhawatiran terhadap arus pasokan energi melalui jalur tersebut.

 

Eskalasi konflik yang kembali terjadi dapat mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kembali kekhawatiran inflasi, yang berpotensi memperkuat argumen perlunya kebijakan moneter yang lebih ketat.

 

Namun sebaliknya jika pembukaan Selat Hormuz berkelanjutan, maka hal ini akan meredakan tekanan terhadap pasokan dan pada akhirnya mengurangi risiko inflasi yang mempersulit prospek kebijakan The Fed sejak meletusnya konflik tersebut di akhir Februari lalu.

 

Minat Investor Dan Bank Sentral Menjaga Emas Dari Penurunan Tajam

 

ANZ juga menyatakan bahwa pemulihan harga Emas yang terjadi baru-baru ini telah memicu aksi ambil untung, terlepas dari membaiknya prospek suku bunga, selanjutnya bank tersebut menilai, bahwa inflasi yang lebih rendah telah mengurangi risiko kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

 

Akan tetapi kombinasi antara risiko energi di Timur Tengah serta posisi pasar yang berada di level yang lebih tinggi (Stretched Positioning), memberikan indikasi bahwa kenaikan harga Emas kemungkinan rentan terhadap terbentuknya fase konsolidasi.

 

Dalam beberapa pekan perdagangan terakhir Emas mampu pulih melampaui level psikologis kunci di $4000 per troy ounce, akibat adanya dorongan dari kembalinya minat para investor serta peningkatan pembelian oleh bank sentral, khusunya pembelian Emas oleh People's Bank of China (PBOC).