


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak terbatas pada perdagangan Kamis (1/10/2026), sementara pasar obligasi global masih berada di bawah tekanan setelah mengalami September yang berat.
Investor mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan dan dampaknya terhadap arah suku bunga Federal Reserve.
Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2%. Indeks KOSPI Korea Selatan juga melemah 0,14%.
Sementara itu, indeks Nikkei Jepang bergerak berbeda dengan menguat lebih dari 1%, ditopang kenaikan saham-saham berbasis semikonduktor.
Di pasar saham AS, kontrak berjangka Nasdaq dan S&P 500 masing-masing naik sekitar 0,3%. Sebaliknya, kontrak berjangka saham Eropa turun 0,75% pada awal perdagangan.
Sentimen pasar Asia belum banyak terbantu oleh kinerja kuat Micron Technology, produsen chip memori yang mencatat hasil positif di tengah lonjakan permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).
"Angka Micron kembali menjadi validasi kuat terhadap permintaan AI dan memori. Namun, pasar mungkin mulai mempertanyakan apakah kita sudah mendekati puncak kelangkaan memori, meskipun permintaan masih melampaui pasokan," kata Charu Chanana, chief investment strategist Saxo.
Menurut Chanana, kondisi makroekonomi juga semakin beragam. Data ekonomi AS yang lebih lemah mengurangi tekanan terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan yield jangka pendek, tetapi yield jangka panjang masih tinggi sehingga biaya modal tetap menjadi perhatian.
Yield Treasury Jadi Perhatian
Pasar obligasi menjadi salah satu sumber tekanan utama bagi investor setelah yield meningkat tajam sepanjang September.
Kenaikan biaya energi memicu kekhawatiran inflasi, sementara ledakan investasi AI meningkatkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi.
Kombinasi tersebut membuat investor bersiap menghadapi periode suku bunga yang bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama.
Yield US Treasury 10 tahun sempat mencapai 5,306%, level tertinggi sejak pertengahan Juni 2007.
Sementara itu, yield Treasury 30 tahun berada di 5,634%, setelah mencapai 5,6517% pada sesi sebelumnya. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni 2002.
Perhatian investor kini tertuju pada berapa lama yield Treasury dapat bertahan di atas level psikologis 5%.
"Dengan utang AS yang telah melampaui US$40 triliun dan kondisi fiskal yang belum menunjukkan perbaikan, level 5% saja secara absolut sebenarnya tidak banyak berarti, terutama jika melihat konteks historisnya," kata Darren Shames, global head of rates sales Nomura.
Menurut dia, yang menjadi perhatian investor adalah arah dan kecepatan kenaikan suku bunga, bukan semata-mata level yield.
Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Menurun
Data yang dirilis Rabu (30/9) menunjukkan inflasi AS meningkat lebih rendah dari perkiraan pada Agustus. Tekanan harga pada Juli juga direvisi lebih rendah.
Data tersebut membuat pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada 28 Oktober.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober kini sekitar 38%, turun dari 50% sehari sebelumnya.
The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga pada September untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dan memberi sinyal bahwa kenaikan biaya pinjaman masih mungkin berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Ekspektasi kenaikan suku bunga Oktober juga berkurang setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan pada Selasa (29/9) bahwa dirinya melihat "tidak ada urgensi" untuk mengambil langkah lebih lanjut.
Di pasar valuta asing, dolar AS tetap bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan karena masih ditopang tingginya yield Treasury.
Euro relatif stabil di US$1,1334 setelah anjlok sekitar 2,5% pada September. Yen Jepang melemah 0,3% menjadi 157,95 per dolar AS setelah menguat sekitar 1,5% sepanjang bulan lalu.
Sementara itu, sejumlah pejabat Bank of Japan melihat perlunya mempercepat kenaikan suku bunga, berdasarkan ringkasan pandangan dalam pertemuan September yang dirilis Kamis.
Di pasar komoditas, harga minyak bergerak relatif datar. Investor mencermati perkembangan pembicaraan damai AS-Iran dan prospek ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Harga minyak Brent berada di sekitar US$98,15 per barel setelah melonjak lebih dari 14% pada September, sekaligus mencatat kenaikan selama tiga bulan berturut-turut.