KVB Logo
Home
Products
Trading
Insights
Campaigns
About Us
imgimg
Market Analysis
Mengenal Siklus Pasar: Akumulasi, Mark-Up, dan Mark-Down
Mengenal Siklus Pasar: Akumulasi, Mark-Up, dan Mark-Down
Orpa Rejoice · 9.7K Views

 

Dalam dunia trading dan investasi, pergerakan harga tidak berjalan secara acak. Pasar cenderung bergerak dalam pola berulang yang dikenal sebagai siklus pasar. Memahami siklus pasar membantu trader dan investor membaca konteks pergerakan harga, mengenali peluang lebih awal, serta menghindari keputusan emosional seperti membeli di puncak atau menjual di dasar harga.

 

Baca Juga: Strategi Trading Saat Pasar Berita Tinggi: High Impact News 

 

Apa Itu Siklus Pasar dalam Trading dan Investasi

 

Siklus pasar adalah rangkaian fase pergerakan harga yang berulang, dipengaruhi oleh psikologi pelaku pasar, kondisi ekonomi, serta aliran dana. Setiap siklus mencerminkan perubahan sentimen, dari pesimisme ekstrem hingga optimisme berlebihan. Bagi trader dan investor, memahami siklus pasar menjadi penting karena strategi yang efektif di satu fase sering kali tidak relevan di fase lainnya.

 

 

Fase Akumulasi (Accumulation Phase)

 

Fase akumulasi biasanya terjadi setelah periode penurunan harga yang panjang. Pada tahap ini, harga bergerak cenderung sideways dalam rentang sempit, dengan volatilitas relatif rendah. Banyak pelaku pasar ritel masih pesimis karena terpengaruh sentimen negatif sebelumnya, sementara pelaku besar atau smart money mulai mengakumulasi aset secara bertahap.

 

Ciri utama fase ini adalah volume yang mulai stabil atau perlahan meningkat tanpa diikuti kenaikan harga signifikan. Secara psikologis, pasar berada dalam kondisi ragu dan tidak yakin. Trader yang mampu mengenali fase akumulasi biasanya memiliki keuntungan karena dapat masuk pasar pada level harga yang relatif rendah dengan risiko yang lebih terukur.

 

 

Fase Mark-Up (Uptrend Phase)

 

Setelah proses akumulasi selesai, pasar memasuki fase mark-up. Pada fase ini, harga mulai bergerak naik secara bertahap dan membentuk tren naik yang jelas. Sentimen pasar berubah dari ragu menjadi optimistis, didukung oleh berita positif, data ekonomi yang membaik, atau ekspektasi pertumbuhan.

 

Volume perdagangan umumnya meningkat seiring kenaikan harga, menandakan partisipasi pasar yang semakin luas. Kesalahan umum trader pada fase mark-up adalah masuk terlalu terlambat karena takut ketinggalan peluang, sehingga membeli di area harga yang sudah tinggi tanpa perhitungan risiko yang memadai. Padahal, fase ini idealnya dimanfaatkan dengan mengikuti tren sambil tetap disiplin pada manajemen risiko.

 

 

Fase Distribusi (Distribution Phase)

 

Fase distribusi terjadi ketika harga telah mencapai area puncak setelah kenaikan panjang. Pada tahap ini, pelaku besar mulai mendistribusikan atau melepas posisi mereka kepada pasar. Harga sering bergerak sideways kembali, namun dengan volatilitas yang meningkat.

 

Secara psikologis, euforia pasar sedang tinggi. Banyak trader ritel terdorong oleh FOMO dan terus membeli karena menganggap harga akan naik tanpa batas. Padahal, tanda-tanda pelemahan mulai terlihat, seperti kegagalan harga mencetak puncak baru atau volume yang tidak lagi mendukung kenaikan. Fase distribusi sering menjadi titik balik sebelum tren berubah arah.

 

 

Fase Mark-Down (Downtrend Phase)

 

Fase mark-down ditandai dengan penurunan harga yang konsisten. Tekanan jual meningkat akibat perubahan sentimen, berita negatif, atau data ekonomi yang mengecewakan. Dalam fase ini, banyak investor mulai panik dan menjual aset mereka, mempercepat penurunan harga.

 

Ciri khas fase mark-down adalah terbentuknya lower high dan lower low, dengan volume yang sering melonjak saat penurunan tajam. Bagi trader, fase ini menuntut disiplin tinggi karena emosi pasar sangat dominan. Strategi defensif dan pengelolaan risiko menjadi lebih penting dibanding mengejar profit agresif.

 

 

Hubungan Siklus Pasar dengan Analisis Teknikal

 

Analisis teknikal berperan besar dalam membantu mengidentifikasi siklus pasar. Area support dan resistance sering menandai transisi antar fase, seperti dari akumulasi ke mark-up atau dari distribusi ke mark-down. Indikator teknikal seperti moving average, RSI, dan volume membantu membaca kekuatan tren serta potensi pembalikan arah.

 

Misalnya, perpotongan moving average sering mengindikasikan perubahan fase, sementara RSI dapat menunjukkan kondisi jenuh beli atau jenuh jual yang berkaitan erat dengan distribusi dan akumulasi.

 

 

Contoh Siklus Pasar pada Saham, Emas, dan Forex

 

Pada pasar saham, siklus sering dipengaruhi oleh kinerja perusahaan dan kondisi ekonomi makro. Harga emas atau XAU/USD cenderung mengikuti siklus yang dipengaruhi oleh inflasi, kebijakan moneter, dan sentimen risk-off, sehingga fase akumulasi sering terjadi saat pasar global penuh ketidakpastian. Di pasar forex, siklus harga mata uang banyak dipengaruhi oleh perbedaan suku bunga, data ekonomi, dan arus modal internasional.

 

image.png

 

Strategi Trading Mengikuti Siklus Pasar

 

Strategi yang efektif adalah menyesuaikan entry dan exit dengan fase pasar. Fase akumulasi cocok untuk membangun posisi bertahap, fase mark-up untuk mengikuti tren, fase distribusi untuk mengamankan profit, dan fase mark-down untuk lebih defensif atau mencari peluang short bagi trader berpengalaman. Manajemen risiko tetap menjadi kunci di setiap fase agar kerugian dapat dikendalikan.

 

Bagi trader yang ingin memanfaatkan pemahaman siklus pasar pada berbagai instrumen seperti saham, forex, dan emas, penggunaan platform trading yang andal menjadi faktor pendukung. Melalui homepage KVB Indonesia, trader dapat mengakses berbagai produk pasar global dan memantau pergerakan harga sesuai konteks siklus pasar. Jika ingin mulai trading dengan lingkungan yang aman dan teregulasi, pendaftaran akun dapat dilakukan melalui halaman registrasi resmi KVB Indonesia untuk mendapatkan akses ke berbagai instrumen dan fitur analisis yang mendukung pengambilan keputusan berbasis siklus pasar.